Welcoming school adalah konsep sekolah yang ramah dan terbuka bagi siapa saja. Maksudnya anak-anak yang kurang atau anak-anak yang cacat fisik berdampingan dengan anak-anak yang normal. Yang dilihat dari film Welcoming school tersebut, Negara-negara yang di dokumentasikan, cukup sukses dengan konsep ini. Namun di Indonesia mungkin belum sukses dengan konsep Welcoming School Yang ada hanya konsep PLB (Pendidikan Luar Biasa). PLB (Pendidikan Luar Biasa) juga sekolah dengan sistem golongan tertentu. Seperti tuna rungu saja ataupun tuna netra saja.
Tapi seperti difilm tersebut. Contohnya di India (kalau tidak salah-red) ada anak yang kecil sekali badannya. Ya kira-kira 50-70 cm. Namun kegigihan dia sebagai siswa yang menurut saya, kurang beruntung. Tapi semangat dan kepandainya melebihi teman-temannya. Serta guru-gurupun juga mendukung. Di lain orang juga ada anak yang tuna netra. Dia sekolah hanya membawa tas, tongkat dan sempoa. Kepandaian dia berhitung, menyamai hitungan dalam kalkulator. Juga ada anak yang menulis dengan pensil digigit dan hasilnya sama dengan tulisan temannya yang normal
Mungkin berat bagi guru yang mengajari mereka. Butuh kesebaran dan sikap adil, antara anak-anak yang normal dengan anak-anak yang kurang. Namun Hak dan Kewajiban serta Keterbatasan mereka. Jangan sampai terabaikan bagi anak yang kurang. Karena akan menjadi si anak yang kurang tadi, menjadi tambah kurang wawasananya juga merasa tidak adil.
Tapi seperti difilm tersebut. Contohnya di India (kalau tidak salah-red) ada anak yang kecil sekali badannya. Ya kira-kira 50-70 cm. Namun kegigihan dia sebagai siswa yang menurut saya, kurang beruntung. Tapi semangat dan kepandainya melebihi teman-temannya. Serta guru-gurupun juga mendukung. Di lain orang juga ada anak yang tuna netra. Dia sekolah hanya membawa tas, tongkat dan sempoa. Kepandaian dia berhitung, menyamai hitungan dalam kalkulator. Juga ada anak yang menulis dengan pensil digigit dan hasilnya sama dengan tulisan temannya yang normal
Mungkin berat bagi guru yang mengajari mereka. Butuh kesebaran dan sikap adil, antara anak-anak yang normal dengan anak-anak yang kurang. Namun Hak dan Kewajiban serta Keterbatasan mereka. Jangan sampai terabaikan bagi anak yang kurang. Karena akan menjadi si anak yang kurang tadi, menjadi tambah kurang wawasananya juga merasa tidak adil.
SARAN
Di Indonesia meski belajar dari Negara-negara yang mengembangkan konsep ini. Dengan tidak ada perbedaan antara mereka yang kurang dengan yang normal. Guru mestinya tahu dengan anak yang kurang atau yang lamban dalam berpikirannya. Contohnya ; memberikan test pada semua anak, dengan kemampuan guru tersebut. Atau dengan menambah guru dalam satu kelas. Seperti ; Guru yang satu didepan dan yang satu lagi dibelakang. Dengan memperhatikan anak didiknya serta mengawasinya.
Mungkin ini hanya pemikiraan saya yang sederhana saja dalam memberikan saran.
Di Indonesia meski belajar dari Negara-negara yang mengembangkan konsep ini. Dengan tidak ada perbedaan antara mereka yang kurang dengan yang normal. Guru mestinya tahu dengan anak yang kurang atau yang lamban dalam berpikirannya. Contohnya ; memberikan test pada semua anak, dengan kemampuan guru tersebut. Atau dengan menambah guru dalam satu kelas. Seperti ; Guru yang satu didepan dan yang satu lagi dibelakang. Dengan memperhatikan anak didiknya serta mengawasinya.
Mungkin ini hanya pemikiraan saya yang sederhana saja dalam memberikan saran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar